Selasa, 04 Maret 2014

DROKIYO, NOSTALGIA TANPA AKHIR




     Namanya dusun Drokiyo, dusun ini terletak di desa Pasi kecamatan Glagah  Kab Lamongan. Kalau dari kota lamongan, kita bisa mengambil jalan ke arah timur jurusan Surabaya, sesampai di pertigaan Deket  belok kiri sampai ketemu pertigaan Soko atau masyarakat sekitar menyebutnya telon Slempit,  dari telon Slempit kita menuju ke timur sampai desa Gempol Pendowo (Pompongan), setelah sampai Desa Gempol Pendowo ada jalan kecil ke arah utara, di situlah letak Dusun Drokiyo. Walaupun bisa dibilang dusun yang kecil, tapi bagi saya pribadi dusun ini merupakan tempat yang penuh dengan kenangan indah,  sebab sebagian besar masa kecil saya dihabiskan di tempat tersebut. 

    Dusun ini dipimpin Kasun atau masyarakat di tempat kami menyebutnya pak Bau ada juga yang menyebut pak Polo, syahdan menurut cerita orang-orang  di tempat tinggal kami, yang pernah jadi Kasun di dusun Drokiyo adalah   bpk Haji Dimyati, bpk Suriyat, bpk Salekan, dan sekarang bpk Fatkur Rohman.





     Waktu  kecil saya tinggal bersama orang tua saya, awalnya saya tinggal satu rumah dengan nenek saya, rumah nenek saya menghadap ke Barat, dulu di depan rumah nenek saya ada tetangga  kalau tidak salah namanya  Bpk Daselan suami dari ibu Nuriyatun, beliau memiliki tiga anak, anak yang pertama namanya Saipul, anak yang ke dua namanya Suhari dan yang ke tiga bernama Rohma, tetapi kemudian keluarga ini pindah entah kemana? kemudian rumah bekas tempat tinggal mereka jadi kosong. Hal ini dimanfaatkan teman-teman di kampung saya  untuk tempat bermain, mulai dari bermain kelereng, bermain gambar, petak umpet dll, sampai akhirnya rumah tersebut diperbaiki dan digunakan untuk tempat tinggal ustad saat ini, bapak Asnawi.

   Tepat di sebelah utara rumah nenek saya terdapat mushola atau Langgar untuk jamaah putri, dulu mushola ini masih berbentuk panggung sehingga untuk memasukinya kita mesti melewati tangga dahulu yang berada di bagian belakang dekat tempat mandi (sungai) mushola tersebut, di tempat inilah remaja putri dan wanita-wanita di tempat saya melakukan sholat berjamaah dan kegiatan keagamaan lainnya.  Di sebelah utara Mushola berdiri satu-satunya warung yang ada di kampung saya waktu itu, sekarang warung tersebut sudah tidak ada lagi, yaitu warung alm Bu Kunaimah, tempat ini merupakan tempat cangkruk atau jandonan orang-orang tua waktu itu, pada saat listrik belum masuk wilayah kampung saya, bila malam tiba warung ini merupakan tempat yang paling terang karena penerangannya menggunakan lampu petromak atau waktu kecil kami menyebutnya lampu kompan, karena untuk proses menyalakannya kita mesti membakar kaos lampu yang sudah dibasahi dengan spiritus dan memompa tabungnya yang sudah diisi minyak tanah, tidak banyak rumah warga yang menggunakan lampu petromak waktu itu, sebagian besar warga untuk menerangi rumahnya di waktu malam hari menggunakan lampu oblek dan lampu templek yang ada semprongnya.






     Sedangkan di belakang rumah nenek saya terdapat sungai kecil yang berasal dari aliran sungai bengawan Solo, sungai ini biasa saya gunakan mandi dan bermain dengan teman-teman. Kami biasanya memanfaatkan batang pisang atau gedebok untuk dijadikan tunggangan kuda-kudaan di sungai, saya dan teman-teman menyebutnya ramon, sungai ini dulu jernih dan banyak sekali ikannya. Di  seberang sungai dahulu ada pohon besar milik alm mbah Trimona dan mbah Badron, namanya pohon Gayam, jika pohon ini sudah berbuah biasanya saya dan teman-teman menunggu  rontoknya buah gayam tersebut, kami tidak berani mengambil buah yang masih berada di pohon karena hal itu di anggap sama halnya dengan mencuri, kami menunggu buah itu matang lalu jatuh di Sungai, setelah jatuh di sungai kami berenang untuk mengambil buah yang terbawa arus  sungai tsb, buah Gayam biasanya direbus  atau digoreng menjadi keripik untuk dijadikan camilan. 

     Dahulu banyak sekali permainan-permaian untuk mengisi keceriaan hari-hari bersama teman-teman saya waktu masih kecil, saya  masih ingat ada  permainan adu klingsi, klingsi adalah biji asam jawa, biji tersebut  digosokkan pada permukaan lantai yang kasar sehingga tersisa tinggal separuhnya, kemudian ditempelkan pada pecahan keramik atau beling untuk di adu kekuatannya sama punyanya teman-teman,  agar kuat ikatanya diberi perekat, saya dan teman-teman menyebutnya dibacem. Bacem ini bermacam-macam asalnya  mulai dari getah pohon kelorak, getah kangkung, putih telur, getah pohon mbulung  (dulu banyak tersebar di sebelah selatan makam dusun Drokiyo, sekarang berubah jadi tambak) bahkan ada yang memakai tepung kanji yang dimasak. Intinya dalam permainan ini adalah barangsiapa yang memiliki klingsi yang paling kuat dialah pemenangnya, dan tentu saja menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bila memiliki klingsi yang menangan. 




     Saya dan teman-teman memiliki beberapa tempat yang biasa digunakan untuk bermain, salah satunya yaitu kebun/britan, tempat di mana kami bermain waktu sore  sambil menunggu waktu magrib tiba, permainan yang popular waktu itu adalah Bentongan, Betengan, Sembek an, Dolip an dan patung-patungan.  Dalam bermain pun semua serasa begitu rukun, remaja putra dan putri berbaur bermain menjadi satu, sangat akur dan tidak pernah terjadi hal-hal yang tdk diinginkan, sesuatu yang sudah menjadi barang langka untuk ukuran saat ini. Jika menjelang magrib permainan pun berakhir, Saya dan teman-teman segera mengambil perlengkapan sholat menuju masjid.

     Ba’dah magrib saya dan teman-teman rutin mengaji alqur’an, guru ngaji kami waktu kecil adalah Pak Ali hamdi, kami biasanya menyebutnya dengan pak Hamdi. Pak Hamdi mempunyai istri bernama bu Ida serta tiga orang anak yang bernama A’am, Anis, dan Fitri. Pak Hamdi mengajar remaja putra di masjid sedangkan bu Ida mengajar remaja putri di mushola.  Kami mengenal pak Hamdi sebagai sosok ustad yang sangat disiplin dan tegas dalam mengajar, bicara soal ketegasan sosok pak Hamdi jangan ditanya, dia ibarat pak Mustar dalam novel sang pemimpi, pernah suatu ketika teman-teman pulang sebelum waktu mengaji Alqu’ran selesai, dan ketahuilah apa yang terjadi? Pak Hamdi  menguber teman-teman tadi ke sudut-sudut kampung, sama persis seperti ketika Pak Mustar mengejar-ngejar Ikal, Arai dan jimbron dalam novel sang pemimpi, tentu saja hal ini membuat teman-teman merasa ketakutan dan panic, bahkan untuk menyelamatkan diri   ada yang sampai – sampai sembunyi dikandang ayam. whew!

      Peristiwa lain yang tak kalah menggelikan yaitu  ketika pak Hamdi mengadakan jadwal pelajaran Qiroah Alqur’an setiap hari minggu siang ba’da sholat zduhur, waktu itu  untuk tenaga pengajarnya namanya ustad Amir dari desa Rayunggumuk. Seperti biasanya setiap hari minggu ba’dah sholat dzuhur semestinya saya dan teman-teman belajar Qiro’ah di masjid, tapi untuk kali ini entah kenapa saya dan teman banyak yang tidak ikut kegiatan malah lebih memilih main karambol di warung. Pas lagi asyik-asyiknya main karambol tiba-tiba pak Hamdi datang mengendarai sepeda motor bututnya, tanpa basa-basi sepeda motornya menerobos tempat saya dan teman-teman kumpul main karambol  sambil “bleyyyer-bleyyyerrrr”  motornya dengan sangat keras,  aksinya bak Lorenzo Lamas waktu mengendarai moge dalam serial Renegade. J,  bedanya Cuma Lorenzo Lamas gondrong sedangkan beliau pake kopiyah atau kalo gak ya pake helm cibok pas naik sepeda. Seketika itu teman-teman lari tunggang-langgang menyelamatkan  diri dari amukan pak Hamdi, saya sendiri langsung lari masuk rumah ambil sarung, ambil kopiyah langsung meluncur ke masjid (nyari amannya. Hehe.. berdoa). 


    Saya pripadi menaruh rasa kagum yang mendalam terhadap sifat beliau, sebagai seorang ustad beliau hidup secara  sederhana, tulus dan penuh pengabdian, sangat jauh berbeda dengan kondisi ustad-ustad Seleb alias ustad dadakan yang belakangan  marak menghiasi layar televisi kita saat ini, yang banyak mengumbar kemewahan dan gaya hidup hedonis ke muka publik, kami mengenang pak Hamdi sebagai sosok yang penuh pengabdian, walaupun imbalan yang didapat dari mengajar para murid-muridnya bisa dikatakan sangat jauh dari kata layak, pun demikian, itu semua tidak menghalangi niat tulus dan perjuangan beliau dalam mendidik murid-muridnya agar menjadi orang yang cerdas dan beriman. Meminjam istilah prof Anies Baswedan, beliau memilih  “terjun langsung turun tangan daripada sekedar urun angan. “ . namun sekitar tahun 1991 pengabdian pak Hamdi di kampung saya berkahir, beliau pindah mengajar ke tempat lain dan posisinya digantikan oleh Ustad Syamsul Ma’arif. (semoga kasih sayang dan lindungan Allah swt selalu menaungi beliau dan keluarganya).

     Selepas kepergian pak Hamdi  urusan keagamaan kampung saya dipimpin oleh  ustad Syamsul Ma’arif,  pada periode inilah bisa dikatakan saat dimana mental dan karakter saya ditempa dan dibentuk. Pada masa beliau, pendidikan keagamaan semakin insentif digalakkan, dimulai dari pagi hari ba’dah shubuh dilakukan pengajian alqur’an, sore hari ba’dah sholat asyar diadakan pendidikan Diniyah, di sini  para santri diajari ilmu Fiqih, Aqidah Ahlak, Tajwid bahkan sampai pelajaran bahasa Arab. Selepas sholat magrib para santri kembali dihadapkan pada pengajian Alquran. Pokoknya benar-benar mantappp and joss markojosss J. Yang jelas saya sangat beruntung bisa diajar beliau, pada waktu itu saya termasuk murid kesayangan beliau (hehehe PD ah bisa aja…), bahkan ketika masa bakti beliau dikampung saya berakhir dan digantikan oleh ustd Roiz beliau sempat memberi sejumlah uang saku yang dititipkan kepada orang tua saya, dan kepada orang tua saya beliau berpesan bahwa diantara teman-temannya saya termasuk anak yang pinter (gubrakkkkkk…berguling di lantai ), saya yang mendapat salam dan pujian  semacam itu Cuma cengar cengir gak jelas. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri, pujian yang meluncur sederhana  dari ustad saya tersebut mampu memberi efek semangat psikologis yang sungguh luar biasa, sejak saat itu gairah belajar saya semakin bertambah secara luar biasa belajar... Alhamdulillah patut disyukuri meskipun saya tinggal dikampung pelosok yang jauh dari keramaian kota, tapi untuk urusan prestasi belajar masih bisa dibanggakan. Lulus SD saya masih mampu menjadi juara pertama, lulus SMP  nilai saya masih bisa menerobos urutan ke tiga, demikian halnya waktu lulus SMK, bahkan saya sudah direkrut sebuah perusahaan manufactur water pump di daerah Tangerang sebagai Research and Development sebelum nilai ijazah ujian kompetensi muncul. Dan Alhamdulillah saat ini bisa bekerja di salah satu BUMN bidang Pembangkit Listrik. Terimah kasih ustd Syamsul….., tak lupa pula pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan kepada orang-orang yang saya anggap berjasa dalam hidup saya diantaranya ; Bpk Sudarto guru kelas VI SDN Pasi I, Bpk Jupri dan Alm Bpk Sutimin Guru Permesinan SMKN 5 Sby, Bu Sylviana ST.MT dosen Teknik Industri UWG. Dan tentu saja kedua Orang Tua dan seluruh keluarga besar saya, wabil khusus kepada sang penasehat spiritual saya, dan pembimbing ahlak melalui tirakat dan amalan2nya yang ihlas, alm Nenek tercinta. Terimah kasih semua atas kebaikan dan jasa-jasanya, semoga kasih sayang dan perlindungan Allah Swt selalu menyertai mereka semua. Aamiin.



     Itulah sekilas mengenai masa kecil saya di kampung  Drokiyo, sejak lulus sekolah SMP saya mulai meninggalkan Drokiyo untuk melanjutkan pendidikan ke Surabaya, walaupun tetep kalau mudik ke dusun  Drokiyo namun hal itu hanya terjadi saat-saat tertentu saja, praktis kebersamaan dengan kampung tercinta  semakin jarang dan berkurang. Lebih-lebih saat sudah berkeluarga seperti saat ini.  Meskipun demikian bagi saya  Drokiyo adalah nostalgia tanpa akhir. Tempat yang penuh kenangan,  Tempat di mana saya dilahirkan, tempat tinggal orang tua dan handai taulan saya Yang selalu saya rindukan.





Tidak ada komentar: