Senin, 23 Juni 2014

Cerpen Misteri, Liburan yang sangat mendebarkan


Namanya Masruchin dia adalah teman kuliahku di salah satu perguruan tinggi Negeri di Bandung. Perawakannya sedang, memiliki kulit berwarna sawo matang dengan potongan rambut cepak dan berkaca mata, dia berasal dari daerah Karanggayam , suatu desa di daerah aliran sungai Bengawan Solo bagian utara Jawa Timur. Sedangkan aku sendiri berasal dari desa Lebak Gede, propinsi Banten. suatu tempat yg terletak di ujung barat pulau Jawa.

 Aku bertemu Masruchin saat pertama masuk kampus di Bandung, sehari - hari dia juga menjadi teman satu Kostku karena kebetulan dia mengambil prodi yg sama denganku.

 Sudah beberapa kali saya ingin ikut liburan ke kampung halamannya, namun baru pada liburan semester kali ini kesempatan itu bisa tersalurkan.

 Setelah menempuh perjalanan panjang dari Bandung ke Jawa Timur akhirnya kami pun tiba di rumah Masruhcin dengan lancar dan selamat, kami disambut dengan penuh kehangatan oleh keluarganya.
Sesampainya di rumah Masruhcin mempersilhkan aku untuk istirahat.

"Elo Istirahat dulu Nald, abis gtu entar sore elo gw ajak nyari ikan di sungai, ikanya banyak bgt lho.., ada ikan mujahir, ada ikan Tombro, Bader, Bandeng, pokoknya gw jamin de pasti entar elo seneng"
 Promosi masruchin tentang ikan yg konon katanya di sungai yang berada di desanya masih banyak sekali, ucapannya bener2 mirip sales panci yg mempromosikan barang dagangannya.
 " Iya de juragan, siapp pak Boss"
 Jawabku asal2an sambil langsung mluncur ke kasur buat istirahat karena badan emang capek bgt abis menempuh perjalanan jauh.

 Sore Hari setelah istirahat badan pun rasanya kembali fresh, rasa capek yg diakibatkan perjalanan jauh sudah hilang. Dan seperti janjinya, akupun diajak Masruhcin mencari ikan dengan menaiki Perahu untuk menyusuri sungai yang ada di desanya.

 Rupanya orang tua masruchin selain sebagai petani tambak dia juga memiliki perkerjaan sampingan yaitu mencari ikan di sungai dengan jaring dan menggunakan alat perangkap ikan yang sangat unik. Saya katakan unik karena Perangkap ikan ini bentuknya seperti Gentong yang digunakan sebagai tempat menyimpan air tapi bahanya terbuat dari anyaman bambu, bagian depannya utk masuknya ikan dibentuk mengerucut ke dalam, semakin kedalam lubangnya semakin kecil sehingga ikan yang sudah masuk akan sulit untuk keluar, saya sendiri baru pertama kali melihat alat perangkap ikan sejenis ini, Orang di kampung sekitar sini menyebut perangkap ikan ini dengan nama "Wuwu".

 Waktu itu jam menunjukkan pukul 17.00 sore ketika aku dan Masruchin berangkat utk melihat hasil tangkapan jaring dan perangkap ikan "Wuwu" milik orang tua masruchin.

 Hembusan udara di desa Karanggayam ini sungguh benar-benar sejuk dan alami, sepanjang sungai yang kami lalui menggunakan perahu, tampak berjejer sayur kangkung yg menjalar di sekitar bibir sungai, bunyi ikan-ikan yang sedang memakan akar dan daun kangkung yg terendam air suaranya sungguh memberi nuansa tersendiri. Lebih-lebih jika pandangan kita alihkan ke ufuk Barat, dimana terlihat sang Surya mulai Beranjak Tenggelam meninggalkan tempat Peraduannya, sinarnya memancarkan bias warna kemerah2an yang menyaput awan disekelilingnya yang membentuk diri oleh perlakuan angin yg menerpanya dengan berbagai macam model2 yang sangat unik nan indah, sebagian jika diamati ada yg mirip Kuda terbang yg memiliki sayap, ada sebagian lagi kumpulan awan yang jika diamati seperti membentuk deretan gunung yang indah. seolah-olah menegaskan Keperkasaan sang Maha Pencipta yang tak terbantahkan.

 Rasanya tak rugi aku menghabiskan waktu liburan di sini, ada pengalaman baru yg sebelumnya tak pernah aku jumpai. Kami mendayung perahu menyusuri sungai, semakin lama kami berdua mendayung semakin jauh kami meninggalkan desa Karanggayam. Dan Pada saat kami mendayung, dari kejahuan tampak ada seseorang di sebuah Pematang sawah terlihat sibuk seorang diri, sepertinya sih orang tersebut sedang membetulkan sesuatu. Setelah kami semakin mendekat rupanya orang tersebut sedang membetulkan pompa dieselnya untuk mengairi tambaknya.

 "Sore Pak De, pripun kabarnya, lagi ngapain sore2 begini?"
 Sapa Masruchin ketika mengetahui orang tersebut adalah Pak De nya.

 " Ehhh kamu Hcin, kapan kamu pulang, kok tiba2 ada di rumah? wahh beneran ne, Pak De mau mindain pompa diesel untuk mengairi tambak tapi gak ada temennya"
sapa Pak DE nya,

 "Saya pulang tadi siang Pak De. Beres Pak De jangan kuatir..., sini Masruhcin bantuin" jawab Masruhcin, lalu sejurus kemudian dia menatapku,
"Eh Nald, elo tunggu dulu ya, ne gw mau bantuin Pak De gue nggeser pompa diesel dulu"

 " Elo bantu pak De. loe sana, gpp.. Gw mau cobain naik perahu sendirian sambil liat2 sungai sekitar sini, kliatanya bagus bgt gw jd penasaran ne," timpalku..

 " Emang elo bisa?, apa gak sbaiknya nunggu gw dulu aja?"

 "Hallaaaa, paling cuma gtu aja, uda sana elo bantuin pak De loe tu, gw mau naklukin sungai2 di sini"

 " Ya da de, ati2 ya Nald, gak usa jauh2"

 "Beres pak Boss" jawabku.

Setelah meninggalkan Masruchin yang membantu pak De nya, kini aku mulai mendayung perahu sendirian, hari semakin sore waktu itu, matahari pun nampaknya berlahan-lahan mulai tenggelam, tapi aku tetap asik mendayung perahu. Dengan penuh semangat aku dayung perahu tersebut untuk menyusuri sungai yang semakin lama menurutku pemandangannya semakin indah dan mempesona.
Tanpa terasa perjalanan yang aku lakukan telah jauh meninggalkan lokasi Masruchin dan Pak De nya. Hingga akhirnya sungai yang aku lalui bentuknya makin melebar seperti danau dan di bagian ujung sungai tersebut ternyata buntu , anehnya sungai ini di tengah-tengahnya banyak ditumbuhi pohon bambu dan pohon-pohon yang sangat besar dengan ranting2 yang menjuntai menyentuh permukaan air, membuat siapa saja yang memasukinya akan merasa merinding ketakutan, terlebih lagi aku yang notabenya bukan penduduk asli sini.

 Dari perasaan yang tadinya ceria kini perlahan-lahan suasana beruba menjadi menyeramkan, suasana angker dan mistis benar-benar terasa di Tempat ini, tanpa terasa bulu kudukku pun mulai berdiri. Di tengah kepanikanku semacam itu, tiba-tiba aku dikejutkan dari kejauhan terlihat tampak tangan seseorang dari dalam air yang sedang meronta-ronta meminta tolong, Aku benar2 terkejut, sepertinya ada seseorang yang memerlukan bantuanku, sebab orang tersebut mau tenggelam dan tetap meronta-ronta meminta tolong.

"mungkin saja orang tsb tdk bisa berenang" pikirku dalam hati.

Tanpa berfikir panjang akupun bergegas mendayung perahuku untuk segera memberi pertolongan. Sekuat tenaga aku mengarahkan perahuku agar bisa segera menghampiri orang tsb dan meraih tangannya sebelum keburu orang tadi tenggelam atau sebelum kejadian paling Buruk menimpa orang tersebut.

 Akan tetapi ketika aku sudah semakin mendekat tiba-tiba tangan tersebut menghilang dan airpun kembali tenang seperti tidak terjadi apa2.

Aku sedikit ragu dengan pemandangan yang barusan aku dapati, dalam hati aku sempat berfikir apa aku salah lihat atau hanya perasaanku saja ya..,  aku yakin posisi orang tadi tepat persis dengan posisiku sekarang ini, tapi begitu dekat kok sama sekali tidak kelihatan apa-apa?.
 "Waduhhh Apa orang tadi sudah tenggelam yaa?" Aku bicara pada diriku sendiri..

 "Pak.. Buk... Gmn keadaan anda, Apa baik2 saja, Halloo...... ?"
 Teriakku di tengah2 sungai tersebut sambil berharap mudah2an mendapat jawaban yang bisa memberi petunjuk, Namum tidak ada balasan sama sekali, kondisi disekitar situ tetaplah sepi..yang ada hanyalah bunyi gesekan2 batang pohon bambu antara yg satu dengan lainnya yang berdecit tertiup angin, suara yang dihasilkan benar mampu menambah seramnya daerah di sekitar situ.

Dengan perasaan yang diliputi keraguan, antara iya dan tidak.. akhirnya aku pun memilih untuk menceburkan diri ke dalam sungai, sebab bagaimanapun aku merasa berkewajiban memberi pertolongan.
Yang menurutku agak janggal adalah aliran air di sungai tersebut sangat tenang, dan saat aku menceburkan diri ke dalam sungai ketinggian sungai yang bentuknya melebar seperti danau ini tidaklah terlalu dalam, hanya sebatas pahaku. Seandainya kalupun orang tadi benar2 tenggelam mestinya tubuhnya tidak akan jauh dari lokasi dia tenggelam, namun setelah lama aku mengubek2 sekitar lokasi tempat tenggelamnya orang tadi,  sama sekali tidak menjumpai apa2. Hal ini mengakibatkan aku jadi merinding, perlahan-lahan perasaan takut mulai menjalar, Akupun memutuskan untuk balik menemui Masruchin dan Pak De nya saja, tentu mereka pasti mencemaskanku.

 Aku dayung perahuku menuju tempat di mana tadi Masruhcin dan Pak De nya berada, akan tetapi Suatu kejanggalan2 yang tidak pada tempatnya mulai menghinggapiku, entah mengapa setiap aku mendayung perahuku, selalu saja aku berputar di tempat yang sama, entah berapa kali aku sudah berusaha mencari jalan pulang, namun tetap saja aku kembali ke tempat semula.

 Di tengah keputus asaanku seperti itu, dari kejauhan sayup2 aku mendengar canda tawa anak kecil yang sedang mandi dan bermain air, hatiku sedikit lega karena rupanya aku tidak sendirian ditempat itu, hal ini membuat hatiku yang tadinya cemas menjadi sedikit lega. akupun mendekati sumber suara tsb dengan mengandalkan cahaya Bulan yang kebetulan waktu itu sedang mencapai titik purnamanya.

 "akan terasa menarik bila bisa bergabung menikmati keceriaan bersama mereka, dan mungkin barangkali mereka bisa ditanyain jalan menuju pulang." gumanku...
Akupun menghampiri sumber suara tersebut, dari kejahuan nampak sekilas bayangan anak2 kecil bermain dengan begitu riangnya, namun ketika jarak sudah semakin mendekat tiba-tiba suara itu semakin pelan dan pelan hingga lama kelamaan ketika aku sudah tiba  suara tersebut menghilang tanpa bekas, hanya menyisahkan deretan bunga teratai dan enceng gondok yang terapung di atas air tanpa menyisahkan riak air sedikitpun seolah-olah tdk terjadi apa2.

Degup jantung yang aku rasakan terasa semakin berdebar - debar, perasaan takut semakin menguasai diriku. Aku bingung tak tahu harus berbuat apa, ingin sekali aku bisa keluar secepatnya dari tempat ini, namun Belum sempat reda ketakutanku tiba-tiba pendengaranku dikagetkan lagi dengan sayup- sayup bunyi gending-gending tari jaipong yang alunan musiknya mencekam laksana musik pengantar keranda kematian. sontak saja aku mendayung perahuku sekuat tenaga, karena aku yakin tidak mungkin ada orang yang memutar musik ditempat yang jauh dari pemukiman warga seperti ini, tapi sialnya ketika aku hendak mendayung, tiba-tiba dayung perahuku tersangkut sesuatu di dalam air, dengan rasa takut yang teramat sangat, aku tarik sekuat tenaga dayungku
Dan Ketika berhasil ditarik keatas, betapa aku terkejut bukan kepalang..!!!
hampir saja aku jatuh pingsan karena ketakutan ketika tahu dari dalam sungai muncul batu nisan yang nyangkut dayungku.

 Dengan manahan segala rasa takut yang menyergap diriku, perlahan-lahan aku mulai pasrah akan keadaanku, nasib dan nyawaku aku serahkan sepenuhnya pada Zat yang maha Kuasa, Akupun merasa ihlas jika memang ini adalah akhir dari perjalanan hidupku di Dunia ini. Sekilas terbayang wajah orang tuaku, teman2 sepermainanku waktu kecil, dan juga wajah kampung Halamanku di Lebak Gede nun jauh di sana.

Entah anehnya saat itulah aku jadi ingat akan Agama, seketika itu dengan rasa berserah diri yg sedalam dalamnya aku membaca Ayat Kursi Alqur'an berulang2 dengan penuh kepasrahan. Dan baru disaat itulah sedikit demi sedikit aku mulai bisa mendengar suara teriakan yang memanggil namaku, berulang2.

 "Ronald..., Ronald... Ini aku..!"

Ketika aku melempar pandangan ke bunyi suara itu, aku bisa melihat Tampaknya ditepi sungai sana Masruchin dan Pak De nya berteriak-teriak mencariku, kemudian akupun bisa menghampiri mereka dan bisa melanjutkan perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan, Masruchin memelukku erat, ia seolah2 menyesal telah membiarkanku menyusuri sungai sendirian.

Dan belakangan aku mengetahui dari cerita Pak De nya Masruhcin Rupa2nya sungai yang melebar yang tengah2nya banyak di tumbuhi bambu dan pohon2 besar yang rantingnya menjuntai menyentuh permukaan air yang aku lalui tadi  ternyata adalah sebuah kuburan yang terendam banjir, tempat itu merupakan tempat yang dipercaya warga sekitar sebagai tempat yang sangat angker, konon dahulunya ada anak kecil dan juga pernah ada orang tua yang mengalami kecelakaan lalu tenggelam di sana, ketika ia meronta-ronta meminta Tolong tak seorangpun penduduk  yg mengetahuinya, hingga akhirnya ia ditemukan oleh warga  kampung sekitar dengan kondisi sudah tak bernyawa.

 TAMAT..!!!
 Cerpen ini di tulis malam jumat dini hari di atas Kereta Krakatau dalam perjalanan dari Merak menuju kota Kediri, di tengah Gerbong yang sepi seorang diri tanpa penumpang lain.

Tidak ada komentar: